Kamis, 09 Februari 2012

PENGINTEGRASIAN PENGURANGAN RESIKO BENCANA DALAM PEMBELAJARAN

Oleh
Sovia Isniati (SMA N 1 KRETEK)


UU No.20/2003 Sistem Pendidikan Nasional Pasal 38 Ayat (2) mnyatakan bahwa, KTSP Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah dibawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar  dan provinsi untuk pendidikan menengah. Kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 menyatakan bahwa penyusunan kurikulum merupakan tanggung jawab setiap satuan pendidikan (sekolah dan madrasah). Oleh karena itu tidak lagi dikenal apa yang disebut dengan kurikulum nasional, yang pada periode sebelumnya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. PP no.19/2005 SNP Pasal 17 menyebutkan:
1. Kurikulum tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs,SMPLB, SMA/ MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik.
2. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, dibawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK dan departemen yang mengurusi urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK.
Penjabaran kurikulum dilakukan dengan penyusunan silabus dan bahan ajar sesuai dengan kondisi geografis dan demografis untuk daerah, kebutuhan, potensi dan karkateristik satuan pendidikan dan peserta didik, yang selanjutnya diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil Konferensi Sedunia tentang Pengurangan Risiko Bencana yang diselenggarakan pada tanggal 18-22 Januari 2005 di Kobe, Hyogo, Jepang; dan dalam rangka mengadopsi Kerangka Kerja Aksi 2005-2015 dengan tema ‘Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas Terhadap Bencana’ memberikan suatu kesempatan untuk menggalakkan suatu pendekatan yang strategis dan sistematis dalam meredam kerentanan dan risiko terhadap bahaya. Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifikasi cara-cara untuk membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana.
Pada bulan Januari 2005, lebih dari 4.000 perwakilan pemerintah, organisasi non-pemerintah, institusi akademik, dan sektor swasta berkumpul di Kobe, Jepang, pada World Conference on Disaster Reduction (WCDR) kesebelas. Konferensi tersebut mengakhiri perundingan-perundingan tentang Kerangka Kerja Aksi Hyogo 2005- 2015 : Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas terhadap Bencana (HFA). Kerangka Aksi ini diadopsi oleh 168negara dan menetapkan tujuan yang jelas – secara substansiil mengurangi kerugian akibat bencana, baik korban jiwa maupun kerugian terhadap asetaset sosial, ekonomi, dan lingkungan suatu masyarakat dan negara – dan merinci seperangkat prioritas untuk mencapai tujuan setindaknya pada tahun 2015.
Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifikasi cara-cara untuk membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana. Karena bencana dapat diredam secara berarti jika masyarakat mempunyai informasi yang cukup dan didorong pada budaya pencegahan dan ketahanan terhadap bencana, yang pada akhirnya memerlukan pencarian, pengumpulan, dan penyebaran pengetahuan dan informasi yang relevan tentang bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha antara lain: (1) menggalakkan dimasukkannya pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana sebagai bagian yang relevan dalam kurikulum pendidikan di semua tingkat dan menggunakan jalur formal dan informal lainnya untuk menjangkau anakanak muda dan anak-anak dengan informasi; menggalakkan integrasi pengurangan risiko bencana sebagai suatu elemen instrinsik dalam dekade 2005–2014 untuk Pendidikan bagi Pembangunan Berkelanjutan (United Nations Decade of Education for Sustainable Development); (2) menggalakkan pelaksanaan penjajagan risiko tingkat lokal dan program kesiapsiagaan terhadap bencana di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lanjutan; (3) menggalakkan pelaksanaan program dan aktivitas di sekolahsekolah untuk pembelajaran tentang bagaimana meminimalisir efek bahaya; (4) mengembangkan program pelatihan dan pembelajaran tentang pengurangan risiko bencana dengan sasaran sektor-sektor tertentu, misalnya: para perancang pembangunan, penyelenggara tanggap darurat, pejabat pemerintah tingkat lokal, dan sebagainya.
Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana adalah usaha sadar dan terencana dalam proses pembelajaran untuk memberdayaan peserta didik dalam upaya untuk pengurangan risiko bencana dan membangun budaya aman serta tangguh terhadap bencana. Pendidikan PRB lebih luas dari pendidikan bencana, bahkan lebih dari pendidikan tentang pengurangan risiko bencana. Tetapi mengembangkan motivasi, ketrampilan, dan pengetahuan agar dapat tertindak dan mengambil bagian dari upaya untuk pengurangan risiko bencana.
Tujuan pendidikan untuk pengurangan risiko bencana adalah:
1. Menumbuhkembangkan nilai dan sikap kemanusiaan.
2. Menumbuhkembangkan sikap dan kepedulian terhadap risiko bencana.
3. Mengembangkan pemahaman tentang risiko bencana, pemahaman tentang kerentanan sosial, pemahaman tentang kerentanan fisik, serta kerentanan prilaku dan motivasi.
4. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan untuk pencegahan dan pengurangan risiko bencana, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang bertanggungjawab, dan adaptasi terhadap risiko bencana.
5. Mengembangkan upaya untuk pengurangan risiko bencana diatas, baik secara individu maupun kolektif.
6. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siaga bencana.
7. Meningkatkan kemampuan tanggap darurat bencana.
8. Mengembangkan kesiapan untuk mendukung pembangunan kembali komunitas saat bencana terjadi dan mengurangi dampak yang disebabkan karena terjadinya bencana.
9. Meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan besar dan mendadak.

Pengintegarasian PRB dalan KTSP bisa dilaksanakan dengan memasukkan dalam muatan lokal, terintegrasi dalam mata pelajaran atau pengembangan diri melalui kegiatan ekstra kurikuler. Hal ini disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing. Pengintegrasian materi pembelajaran Pendidikan PRB ke dalam mata pelajaran bisa dilakukan terhadap mata pelajaran yang ada dalam struktur kurikulum (Standar Isi) yang wajib dilaksanakan di sekolah ataupun mata pelajaran tambahan sebagai mata pelajaran pokok. Pengintegrasian materi pembelajaran Pendidikan PRB ke dalam mata pelajaran pokok dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Identifikasi materi pembelajaran pendidikan PRB.
2. Analisis kompetensi dasar yang dapat diintegrasikan materi pembelajaran pendidikan PRB.
3. Penyusunan model pengintegrasian PRB dalam kurikulum pembelajaran
4. Penyusunan Silabus yang mengintegrasikan materi pembelajaran pendidikan PRB.
5. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang Menginterasikan Materi Pembelajaran Pendidikan PRB.
5. Penyusunan bahan ajar yang mengintegrasikan materi pembelajaran PRB.
Materi pembelajaran adalah bahan yang diperlukan untuk pembentukan pengetahuan,  keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai siswa dalam rangka memenuhi standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan. Materi pembelajaran pendidikan PRB dibagi menjadi 3 fase, yaitu sebelum bencana, ketika bencana, dan sesaat atau setelah bencana. Materi pembelajaran ketiga fase tersebut disusun berdasarkan jenis bencana yang terjadi, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, dan kebakaran.
Materi pembelajaran terdiri dari:
1.      Materi fakta, yaitu segala hal yang berwujud kenyataan dan kebenaran, meliputi nama-nama obyek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat
2.      Materi konsep, yaitu segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakekat, inti /isi dan sebagainya. Materi konsep ini pada materi pembelajaran pendidikan PRB contohnya adalah pengertian gempa bumi dan proses terjadinya tsunami.
3.      Materi prinsip, berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting, meliputi dalil, rumus, adagium, postulat, paradigma, teorema, serta hubungan antar konsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat.
4.      Materi prosedur, meliputi langkah-langkah secara sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem. Materi prosedur ini pada pembelajaran pendidikan PRB contohnya adalah prosedur penyelamatan diri ketika terjadi gempa dan tsunami.
5.      Materi sikap atau nilai, merupakan hasil belajar aspek afektif, misalnya nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar dan bekerja, dsb. Materi sikap atau nilai ini pada materi pembelajaran pendidikan PRB contohnya adalah sikap yang harus dikembangkan dalam menjaga keselamatan lingkungan.



CONTOH PENGEMBANGAN  RPP PRB

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

I.                Identitas
Satuan Pendidikan                     : SMA Negeri 1 Kretek
Mata Pelajaran                          : Bahasa Inggris
Kelas/Program/Semester          : XII / IPA, IPS / Ganjil
Alokasi Waktu                            : 2 x 45 menit
II.              Standar Kompetensi
5.  Membaca
Memahami makna teks fungsional pendek dan esei sederhana berbentuk narrative, explanation, dan discussion dalam konteks kehidupan sehari-hari dan untuk mengakses ilmu pengetahuan.
III.            Kompetensi Dasar
5.2. Merespon makna dalam dan langkah retorika dalam esei yang menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari dan untuk mengakses ilmu pengetahuan dalam teks berbentuk: narrative, explanation dan discussion.
IV.           Indikator
1.         Dapat menyebutkan generic structure dari teks explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
2.         Dapat mengidentifikasi pola kalimat yang digunakan dalam teks explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
3.         Dapat menyebutkan  tema teks explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
4.         Dapat menemukan informasi tertentu yang terdapat dalam teks explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
5.         Dapat menemukan informasi rinci tersurat yang terdapat dalam teks explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
6.         Dapat menemukan informasi rinci tersirat yang terdapat dalam teks explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
7.         Dapat menyebutkan tujuan komunikasi penulisan teks  explanation. berjudul “How an Earthquake Happens.

V.             Tujuan Pembelajaran
Setelah membaca teks berbentuk explanation  siswa dapat: 
1.       mengidentifikasi generic structure dari teks tulis essei berbentuk explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
2.       menentukan gambaran umum tentang isi teks tulis essei berbentuk explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
3.       menentukan informasi tertentu yang terdapat dalam teks tulis essei berbentuk explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
4.       menentukan informasi rinci yang terdapat dalam teks tulis essei berbentuk explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
5.       menentukan tujuan komunikasi dari teks tertulis berbentuk explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
VI.           Materi Pokok
Explanation is a text with the organization as the following:
1.       General Statement.
2.       Sequenced of explanation
3.       Closing
The communicative purpose of an explanation is to explain the processes involved in the formation and the working of natural or social phenomenon.
Language features of an explanation:
1.       The use of general and abstract nouns.
2.       The use of simple present tense.
3.       The use of conjunctions of time and cause.
4.       The use of technical language.

          Contoh Teks Explanation.
          An earthquake is a sudden and sometimes catastrophic movement of a part of the Earth’s surface. Earthquakes result from the dynamic release of elastic strain energy that radiates seismicwaves. Earthquakes typically result from the movement within the Earth’s upper crust. The word earthquake is also widely used to indicate the source region itself. Earthquakes occur where the stress resulting from the differential motion of these exceeds the strength of the crust. The highest stress (and possible weakest zones) is most often found at the boundaries of the tectonic plates and hence these locations are where the majority of earthquakes occur. Events located at plate boundaries are called interplateearthquakes, the less frequent events that occur in the interior of the lithospheric plates are called interplate earthquakes. Earthquakes also occur in volcanic regions. Seismic waves including some strong enough to be felt by humans can also be caused by explosions   
  
VII. Metode Pembelajaran
Permodelan, Diskusi, Tanya Jawab.
Presentation, Practice, Poduction
VIII.   Sumber dan Media Pembelajaran
1.       Buku  Elektronik ’Developing English Competence’,
2.       Buku ’English Text in Use’. Muchlas Yusak, Rohani, Rudi Hartono,  Aneka Ilmu.
3.       Lembar Kerja.
IX.            Langkah-langkah Pembelajaran
1.       Pembukaan
a.       Orientasi
Salam dan tegur sapa:
1)      Good morning/Good afternoon.
2)      How are you?
3)      Did you sleep well last night?
4)      Did you have breakfast this morning?
5)      Who are absent today
b.      Apersepsi
Guru menanyakan kepada siswa hal-hal sebagai berikut:
1)      Do you still remember what happened on May 26th 2006 in our region?
2)      What happened at that time?
3)      What did you and your family do when the earthquake happened?
4)      How were people in your neighborhood?
5)      Do you know why it can happen?
c.       Menyampaikan tujuan pembelajaran
1) Siswa dapat mengidentifikasi generic structure dari teks tulis essei berbentuk explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
2) Siswa dapat menentukan gambaran umum tentang isi teks tulis essei berbentuk explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
3)     Siswa dapat menentukan informasi tertentu yang terdapat dalam teks tulis essei berbentuk explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
4)  Siswa dapat menentukan informasi rinci yang terdapat dalam teks tulis essei berbentuk explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
5)  Siswa dapat menentukan tujuan komunikasi dari teks tertulis berbentuk explanation berjudul “How an Earthquake Happens.
2.       Kegiatan Inti
1.         Presentation
a.     Siswa memperhatikan guru yang memberikan contoh teks explanation berjudul “How an Earthquake Happens.dan menjelaskan tentang hal-hal berikut:
1.       General Statement.
2.       Sequenced of explanation
3.       Closing
The communicative purpose of an explanation is to explain the processes involved in the formation and the working of natural or social phenomenon.
b.  Siswa membaca teks berjudul ‘Tsunami’ yang diberikan guru dan mengidentifikasi generic structure dari teks yang diberikan.
c.   Siswa dan guru membahas jawaban tentang generic structure dari teks teks berjudul ‘Tsunami’ yang telah dibaca.
d.  Siswa membaca ulang teks berjudul ‘Tsunami’ yang diberikan guru dan mengidentifikasi pola kalimat yang digunakan.
2.       Practice
a.       Siswa secara berpasangan mendiskusikan gambaran umum/tema teks explanation berjudul ‘Tsunami”.
b.      Siswa menjawab pertanyaan  bacaan tentang informasi rinci tersurat/tersirat dan tujuan komunikasi teks explanation berjudul ‘Tsunami
c.       Siswa dan guru membahas jawaban dari pertanyaan  bacaan tentang teks explanation berjudul ‘Tsunami’.
3.       Production
a.       Siswa diberi teks berbentuk explanation berikut pertanyaan bacaan.
b.      Siswa mengerjakan latihan pemahaman bacaan.
c.       Siswa dan guru membahas jawaban.
3.       Penutup
a.       Kesimpulan
Guru menyampaikan kesimpulan dari materi yang yang dipelajari:
§  Tema teks explanation dapat ditemukan dari bagian general statement (biasanya dinyatakan dengan ”how and why ... occurs , the process how  and why ... happens”).
§  Informasi rinci dapat ditemukan di bagian sequenced of explanation.
§  Tujuan komunikasi dari teks berbentuk discussion adalah ” to explain the processes involved in the formation and the working of natural or social phenomenon.
b.      Penilaian Proses
Guru bertanya secara lisan hal-hal berikut:
§  In which part of the text can we find the topic of an explanation text?
§  Where can we find the process how and why a natural phenomena happens?
§  What is the communicative purpose of an explanation text?
c.       Tindak Lanjut
Guru memberikan pertanyaan lisan sebagai berikut:
§  Based on the information that you get from our SSB team what should we do when an earthquake happens?
§  When should we get out of  this place?
§  Where should we go then?
Guru memberi tugas sebagai berikut:
§  Find an explanation text in text books or in the internet which deal with how and why a natural phenomena happen.
X.              Penilaian
1.       Jenis Tagihan: Tes tertulis
2.       Bentuk Soal: Uraian
3.       Soal: terlampir
4.       KunciJawaban: terlampir

Mengetahui                                                                          Kretek, Agustus 2010
Kepala SMA Negeri 1 Kretek                                             Guru Mata Pelajaran


IBNU SUHANDA, M.Pd.                                                   Yuana Purnaminingsih, M.Pd.

4 komentar:

  1. tulisan dan sistematikanya bagus bu sovia, teruskan berkarya....

    BalasHapus
  2. Bagus dan lengkap, serasa ikut workshop, cocok untuk wilayah Indonesia yang rawan gempa...empat jempol buat Bu Sovia

    BalasHapus