Oleh
Sovia Isniati (SMA N 1 Kretek)
Globalisasi telah
menempatkan manusia pada dunia tanpa batas (borderless world).
Globalisasi yang disertai dengan revolusi di bidang ICT (Information and
Communication Technology) membawa pengaruh pada perilaku di kalangan
generasi muda termasuk para pelajar. Berbagai kemudahan memperoleh informasi
akibat akselerasi di bidang ICT telah membuat generasi muda Indonesia yang
merupakan tulang punggung bangsa teracuni dengan berbagai dampak negatif
globalisasi. Hal ini dapat dilihat dari kondisi di lapangan yang menunjukkan
bahwa munculnya budaya kekerasan, konsumerisme menjadi gaya hidup kawula muda,
lunturnya semangat kegotong royongan, kurangnya penghargaan terhadap budaya
sendiri, meninggalkan hasil produksi dalam negeri dan lebih membanggakan hasil
produksi luar negeri, bahkan hingga sekarang, dunia pendidikan masih diwarnai
perilaku siswa membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hingga
mengkonsumsi minuman keras dan narkotika. Bahkan sudah ada gejala peredaran
adegan porno yang diperankan oleh para pelajar. Kondisi ini tentu saja
menjadikan satu keprihatinan bagi kita. Akan tetapi fenomena ini tidak akan
terjadi apabila orang tua dan lembaga pendidikan berhasil menerapkan pendekatan
pendidikan nilai dan mengajarkan nilai moral yang berlaku di masyarakat.
Berkaitan dengan
pendekatan pendidikan nilai, Kirchenbaum menyarankan pendidikan nilai yang
komprehensif yang meliputi Inculcation (Inkulkasi), Fasilitation
(fasilitasi), dan pembinaan keterampilan (skill building). Pendekatan
penanaman nilai (inkulkasi) mengusahakan agar para siswa mengenal dan menerima
nilai sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya
melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pilihan,
menentukan pendirian, menerapkan nilai sesuai dengan keyakinan diri. Nilai adalah seperangkat
sikap yang dijadikan dasar pertimbangan, standar atau prinsip sebagai ukuran
dalam kelakuan. Pengertian lain dari nilai adalah the addresse of a yes.
Artinya nilai adalah sesuatu yang ditunjukkan dengan ya. Nilai merupakan
sesuatu yang mempunyai konotasi positif. Dalam dunia pendidikan, pendidikan
nilai merupakan salah satu bagian dari pendidikan afektif. Tujuan pendidikan
afektif adalah membantu siswa agar meningkat dalam hierarki afektif, yakni dari
tingkat paling bawah (menerima pernyataan tentang nilai-nilai) melalui tingkat
merespons terhadap nilai-nilai kemudian menghargainya, merasa komitmen terhadap
nilai-nilai itu dan akhirnya menginternalisasikan sistem nilai sebagai tingkat
tertinggi dalam perkembangan afektif.
Proses pembelajaran yang
diselenggarakan secara formal di sekolah dimaksudkan untuk mengarahkan
perubahan diri siswa secara terencana baik aspek pengetahuan, keterampilan
maupun sikap. Namun banyaknya materi bahasan yang dibebankan oleh kurikulum
dengan keterbatasan waktu yang tersedia merupakan kendala bagi guru untuk dapat
mengoptimalkan penanaman nilai-nilai pada siswa. Untuk mengejar target
kurikulum, guru dalam pembelajaran cenderung lebih menekankan penguasaan materi
ajar. Nilai-nilai yang dapat
dikembangkan dalam diri siswa adalah nilai-nilai nurani (values of being) yang
meliputi ketaqwaan kepada Tuhan YME, kejujuran, rasa percaya diri, kesabaran,
ketertiban, dan keberanian. Sedangkan nilai-nilai yang memberi (values of
giving) meliputi kesetiaan, dapat dipercaya, menghormati, empati dan simpati, kasih
sayang, ramah, dan adil. Pendidikan nilai
sebenarnya sudah didapatkan anak semenjak berada di lingkungan keluarga maupun
lingkungan sekitar. Secara sadar atau tidak, mereka sudah mulai mengembangkan
pendidikan nilai melalui pengamatan terhadap orang tua, teman, media, yang pada
akhirnya mereka akan meniru apa yang telah mereka lihat setiap hari.
Pengembangan pendidikan nilai dilanjutkan pada lembaga pendidikan atau sekolah.
Bagaimana metode
pendidikan nilai yang tepat dan menyenangkan? Sebagai guru pertama bagi anak,
orangtua berperan penting menjadi pelaku nilai, baik nilai-nilai nurani maupun
nilai-nilai memberi. Mulailah dari hal kecil seperti membiasakan salam, berkata
santun, hingga pada hal paten seperti salat lima waktu bagi keluarga muslim.
Sebagai teladan, orangtua harus menunjukkan kepada anak bahwa orangtua
“menjunjung tinggi nilai itu”. Selanjutnya sekolah
sebagai subkontraktor pendidikan nilai mempunyai tanggung jawab melanjutkan
penanaman pendidikan nilai. Di sekolah ada guru yang mengajarkan
pendidikan agama, guru pendidikan kewarganegaraan, dan bahkan guru bimbingan
dan konseling, tetapi pada kenyataannya jam pelajaran sangatlah minim
dibandingkan dengan kuantitas jam pelajaran pada disiplin ilmu lainnya.
Karena itu seharusnya guru yang mengajarkan disiplin ilmu lain, ikut aktif menanamkan pendidikan nilai. Sehingga pelaksanaannya kontinyu tidak terpusat pada satu atau dua mata pelajaran. Sehingga semua yang terlibat pada proses pembelajaran di sekolah, bisa menjadi pelaku nilai moral, karena seorang guru panutan bag isiswanya baik dalam berucap ataupun bersikap.
Karena itu seharusnya guru yang mengajarkan disiplin ilmu lain, ikut aktif menanamkan pendidikan nilai. Sehingga pelaksanaannya kontinyu tidak terpusat pada satu atau dua mata pelajaran. Sehingga semua yang terlibat pada proses pembelajaran di sekolah, bisa menjadi pelaku nilai moral, karena seorang guru panutan bag isiswanya baik dalam berucap ataupun bersikap.
Kegagalan orang tua atau guru dalam menanamkan
pendidikan nilai bisa jadi karena metode yang kita gunakan kurang efisien atau
membosankan. Untuk itu sudah saatnya kita mencoba membenahinya dengan metode
lainnya, sehingga tujuan akan tercapai. Pertama, diskusi atau problem solving
dimana anak kita libatkan untuk mengemukakan ide dalam mencari solusi masalah
yang sering mereka alami, sementara kita membantu mereka mengembangkan minat
dan kemampuan mereka sendiri untuk berbicara. Nilai-nilai yang kita ajarkan
perlahan-lahan namun pasti akan menular kepada mereka apabila kita sering
berinteraksi. Kedua, permainan (game) skenario kita betul-betul
menempatkan diri anak dalam situasi yang memperlihatkan konsekuensi serta
hubungan sebab akibat dalam berbagai pilihan atau perilaku. ketiga,
penghargaan dan pujian yang positif, perhatian positif yang kita berikan
saat seorang anak menunjukkan citra diri (self - image) dan individualitasnya
dapat membangun rasa percaya dirinya dan hal ini diperlukan untuk mendapatkan
keandalan diri (self-reliance). Pujilah mereka saat menunjukkan tindakan
pengembangan nilai karena akan membuat mereka bangga dan merasa dapatdiandalkan.
Keempat, membiasakan pepatah-pepatah atau kata-kata bijak, untuk
menanamkan nilai moral yang kuat kedalam benak seorang anak kita harus
membiasakan pepatah atau kata bijak yang menyatakan suatu nilai moral
Mengingat pentingnya
pendidikan nilai pada anak, sudah seharusnya orang tua dan lembaga pendidikan
berbenah diri dengan mengubah tradisi dan memanfaatkan sarana prasana yang
menunjang pengembangan pendidikan nilai. Mari bahu membahu untuk
mewujudkan pribadi generasi kita yang mengaplikasikan pendidikan nilai. Oleh
karena itu pendidikan nilai harus kita berikan sekarang dan seterusnya.
* Artikel ini telah di publikasikan di Harian Jogja, Sabtu Wage, 25 Juli 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar